Pada tanggal 17 hingga 19 mei 2008, Kelompok Minat Profesi Veteriner (KMPV) Pet and Wild FKH Unair mengadakan acara pengamatan satwa liar di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Acara ini diikuti oleh sekita 58 mahasiswa FKH unair beserta Kelompok Studi Satwa Liar (KSSL) FKH UGM, yang diwakili oleh Permadi, Deva R, Maria Aditya, Dwi Nur, dan Rosita P, serta Pranoto Adi Swasono, SKH, mahasiswa pendidikan profesi dokter hewan FKH Udayana. Kegiatan ini rutin diadakan oleh KMPV Pet and Wild FKH Unair satu tahun sekali.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk melakukan studi dan pengamatan terhadap satwa liar di Taman Nasional Alas Purwo, untuk meningkatkan minat mahasiswa terhadap satwa liar, serta sebagai implementasi terhadap materi kuliah yang telah didapatkan di FKH. Dua satwa yang menjadi objek studi utama kegiatan ini adalah banteng (Bos javanicus javanicus) dan penyu (sea turtle).
Taman Nasional Alas Purwo terletak di kecamatan Tegaldlimo dan kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Taman Nasional Alas Purwo memiliki luas area 43.420 Ha. Terdapat beberapa zona dalam TN Alas Purwo, yaitu :
Σ Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 Ha
Σ Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 Ha
Σ Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 Ha
Σ Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 Ha.
Secara umum tipe hutan di kawasan TN Alas Purwo merupakan hutan hujan dataran rendah yang terdiri dari hutan mangrove, hutan pantai, hutan tanaman, hutan bambu dan terumbu karang, dengan hutan bambu sebagai formasi yang dominan, ± 40 % dari total luas hutan yang ada. Tumbuhan khas dan endemik pada taman nasional ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki) dan bambu manggong (Gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya adalah ketapang (Terminalia cattapa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia foetida), keben (Barringtonia asiatica), dan 13 jenis bambu.
Taman Nasional Alas Purwo merupakan habitat dari beberapa satwa liar seperti lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus), banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan (Gallus gallus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), dan kucing bakau (Prionailurus bengalensis javanensis). Satwa langka dan dilindungi seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas) biasanya sering mendarat di pantai Selatan taman nasional ini pada bulan Januari s/d September.
Acara pengamatan dimulai sekitar pukul 06.00 WIB yang berlokasi di Sadengan, yang merupakan padang pengembalaan satwa seperti banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan dan burung-burung. Pengamatan ini dilakukan dengan metode konsentrasi, yaitu metode sensus yang dilakukan dengan mengamati satwa pada tempat-tempat berkumpulnya. Beberapa satwa yang diamati dengan metode ini antara lain :
• Banteng (Bos javanicus javanicus)
Jumlah yang diamati sebanyak 26 ekor, dengan rincian 20 ekor betina dan enam ekor pejantan. 26 ekor banteng tersebut terbagi dalam tiga kelompok. Kegiatan yang dilakukan kelompok pertama adalah merumput, kelompok kedua istirahat, sedangkan kelompok ketiga lari menuju arah selatan. Pengamatan banteng oni dilakukan pada pukul 05.53 – 06.15 WIB. Dari hasil pengamatan juga diketahui bahwa jumlah betina yang berumur lebih dari 1 tahun adalah 12 ekor, sedangkan yang masih berumur kurang dari 1 tahun sebanyak 8 ekor. Pejantan yang berumur lebih dari 1 tahun sebanyak 2 ekor, dan 4 ekor lainnya masih berumur kurang dari 1 tahun.
Ciri spesifik pada banteng adalah warna putih pada kaki bawah dan pantat. Pada banteng jantan bulu berwarna hitam dan memiliki tanduk panjang dan berpunuk. Banteng betina memiliki bulu berwarna merah-coklat dengan tanduk pendek dan tidak berpunuk.
• Rusa (Cervus sp)
Jumlah rusa yang diamati pada pukul 06.28 WIB adalah sebanyak 34 ekor. Saat diamati, kegiatan yang dilakukan kelompok rusa tersebut adalah merumput dan istirahat. Ciri umum rusa adalah bulunya berwarna coklat, memiliki tanduk pada pejantan, sedangkan pada betina tidak.
• Merak (Parvo muticus)
Jumlah merak yang diamati pada sekitar pukul 06.27 WIB sebanyak 6 ekor, dengan 3 ekor jantan dan 3 ekor betina. Merak jantan memiliki ekor yang lebih panjang daripada merak betina, tubuhnya berwarna hitam dan terdapat warna hijau pada bulu ekornya.
• Lutung
Pada pohon di dekat menara pengamatan, kami menamukan dua ekor lutung yang sedang beristirahat.
• Kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris)
Kami juga mengamati dua ekor kangkarang perut putih yang terbang ke arah utara. Ciri burung ini adalah perut dan totol di bawah mata berwarna putih, serta tanduk pada betina lebih kecil dan lebih kehitaman dripada pada pejantan.
• Elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster)
Terdapat dua ekor elang laut perut putih yang hinggap di ranting pohon saat pengamatan dilakukan di Sadengan. Ciri elang jenis ini adalah kepala dan bagian bawah berwarna putih, kaki abu-abu, ekor pendek dan berbentuk baji.
• Elang ular bido (Spilormis cheela)
Elang ini terbang di atas pos pengamatan sekitar pukul 08.30 WIB. Burung ini memiliki ciri bulu utama bertitik-titik dan pada bawah sayap dan ekor terdapat garis yang jelas.
• Jalak putih (Sturnus melanopleros tricaos)
Terlihat empat ekor Jalak putih yang sedang hinggap di atas punggung banteng. Ciri burung ini adalah tubuhnya terdiri dari dua warna dengan tenggorokan berwarna putih.
• Cangak abu (Ardea cinerea)
Kami juga mengamati dua ekor cangak abu yang sedang terbang. Burung ini memiliki ciri kepala berwarna putih, leher putih, dan badan berwarna hitam.
• Layang-layang (Hirundo sp)
Kami mengamati lima ekor burung Layang-layang yang terbang di dekat menara pengamatan di Sadengan. Ciri yang terlihat adalah burung ini sering mengepakkan sayap saat terbang dan sayapnya berbentuk huruf V.
Selanjutnya pengamatan dilakukan dengan menyusuri hutan atau yang disebut jalur track. Jalur yang kami tempuh dimulai dari sadengan menuju Trianggulasi melewai hutan. Beberapa satwa yang berhail kami amati saat pengamatan jalur track antara lain:
• Jalak suren (Stirnus contra)
Kami mengamati lima ekor jalak suren pada ranting pohon. Ciri burung ini adalah bulunya memiliki dua warna dengan tenggorokan berwarna hitam.
• Ayam hutan (Gallus sp)
Kami semepat megamati seekor ayam hutan pada perjalanan menuju Trianggulasi. Ciri ayam hutan antara lain pada yang betina bulunya berwarna coklat.
• Gagak hutan (Corvus enca)
Jumlah gagak hutan yang kami amati saat burung ini hinggap di pohon adalah sebanyak dua ekor. Gagak hutan memiliki paruh yang lebih panjang dan lebih langsing daripada gagak kampung, serta bagian bawah lebih abu-abu. Bulunya didominasi warna hitam.
• Kirik-kirik senja (Merops leschenaulti)
Kami mengamati seekor kirik-kirik senja yang sedang hinggap di pohon pada jalur track. Ciri burung ini antara lain memiliki topi dan mantel yang berwarna coklat, ekor hijau dan bulu ekor tengahnya tidak memanjang, dan terdapat garis hitam pada dada atas.
• Ular Phyton (Phyton molurus)
Kami sempat menemukan seekor phyton yang berada di jalan jalur track.
Pada saat melakukan pengamatan pada jalur track, kami juga membuat plaster cast, yaitu membuat cetakan gips pada jejak satwa liar yang terbentuk di tanah. Beberapa plaster cast yang behasil dibuat antara lain berasal dari jejak banteng dan rusa. Selain itu kami juga mengambil sampel feses untuk diperiksa apakah feses tersebut mengandung penyakit.
Pada Sabtu malam, diadakan acara lalar, yaitu berjalan di sepanjang pantai untuk menemukan dan mengamati penyu yang naik ke daratan untuk bertelur. Rute lalar dimulai dari Trianggulasi menuju Ngagelan dan ditempuh sepanjang garis pantai. Acara lalar dimulai sekitar pukul 00.30 WIB dan berakhir pada sekitar pukul 05.00 WIB. Sebelum lalar dilaksanakan, diadakan briefing sebagai bekal dalam pelaksanaan lalar. Beberapa hal yang disampaikan dalam briefing antara lain mengenai jenis-jenis penyu dan cirinya, jenis penyu yang sering bertelur di pantai di Taman Nasional Alas Purwo, serta cara melakukan pengamatan penyu yang benar. Penyu sangat sensitif dan mudah terganggu karena cahaya, suara dan gerakan terutama pada saat dia keluar dari air, menuju pantai dan menggali lubang untuk bertelur. Oleh karena itu, pada saat melakukan pengamatan penyu, sebaiknya pengamat tidak menyorot penyu dengan senter atau membuat cahaya lain, tidak mengunakan bau-bauan yang menyengat, tidak gaduh dan tidak menghalangi jalan penyu waktu penyu akan kembali ke laut.
Terdapat 8 jenis penyu di dunia, yaitu penyu tempayan atau Longgerhead turtle (Caretta caretta), penyu pasifik atau Black or Eastern pasific green turtle (Chelonia agassizii), penyu hijau atau green sea turtle (Chelonia mydas), Penyu belimbing atau Leatherback turtle (Dermochelys coriacea), penyu sisik atau Hawksbill turtle (Eretmochelys imbricata), Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi), Penyu lekang atau Olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea), dan penyu pipih atau flatback turtle (Natator depressa). Dari 8 jenis penyu di atas, tujuh diantaranya terdapat di perairan Indonesia, kecuali kemp’s ridley. Empat dari tujuh penyu yang terdapat di perairan Indonesia naik ke pantai untuk bertelur di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, yaitu penyu lekang, penyu hijau, penyu belimbing dan penyu sisik.
Pada saat melakukan lalar kami bertemu dengan seekor penyu lekang yang naik ke pantai. Namun kami tidak menemukan sarang tempat penyu tersebut meletakkan telur. Kami menduga penyu tersebut melakukan memeti dan kemungkinan akan kembali naik ke pantai 2-3 hari kemudian. Acara lalar diakhiri dengan mengunjungi pusat penangkaran penyu yang berada di Ngagelan. Di pusat penangkaran dilakukan penetasan telur di pasir, pemeliharaan tukik agar nantinya saat dilepas ke laut mereka telah siap dan mampu bertahan hidup.
Acara pengamatan satwa liar di Taman Nasional Alas Purwo diakhiri dengan diskusi yang diadakan bersama pihak Balai Konservasi Taman Nasional Alas Purwo. Dari hasil diskusi dapat kami simpulkan bahwa kami harus bersama-sama menjaga kelestarian alam, pada khususnya kelestarian Taman Nasional serta melestarikan satwa liar sebagai bentuk kontribusi aktif mahasiswa. Pihak balai konvservasi juga mnginginkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai satwa-satwa yang hidup di Taman Nasional Alas Purwo (PurDi).




Salam lestari…
Kalo bisa sih, di blog ini nantinya diberikan rencana yang akan diadakan oleh KMPV Pet and Wild Animal ini. Yah… sekedar memudahkan saja
sori..
parvo muticus ntu benda apa y??
mohon klo mo dipost di edit dulu …
nti malu dbaca orang banyak…
dari forum studi Bio-prospektif satwa liar indonesia, salam lestari..
kalau ada artikel atau jurnal tentang konservasi satwa liar di tingkat ex-situ (penangkaran) bisakah dipublikasikan?
kita lagi kumpul2 literatur tentang penangkaran satwa liar ntar mo dikomparasikan dengan pendekatan ilmu peternakan,,
kalaupun ada bisakah di em-ailkan di :
binasatwaloka@yahoo.com
makasiiih sebelumnya….