Feeds:
Tulisan
Komentar
poster PW 1

poster PW 1

BASIC STUDY OF SEA TURTLE OBSERVATION IN ALAS PURWO NATIONAL PARK, BANYUWANGI, EAST JAVA
KMPV Pet and Wild Animal of Veterinary Medicine Faculty of Airlangga University

ABSTRACT
Alas Purwo National Park is one of sea turtle’s nesting site in Indonesia. Nesting is an unique reproduction behaviour for the sea turtle and become interesting to be explored. Many ways to explore this interesting topic, such as the basic study for the sea turtle observation. This study is an application basic theory for sea turtle such as identification, behaviours, and natural habitat conservation. This activity always held by KMPV Pet and Wild Animal once a year since 2004. By the observation, we look for the appearance of sea turtle while nest, or even the rest of its nest. Since 2004 till now, we have found two positive results which is in 2006 and 2008.

Key words : sea turtle, nesting, Alas Purwo National Park, KMPV Pet and Wild.

Introduction
Sea turtle is the one of endangered reptile and there are seven species only in the world. Sea turtle in danger of extinction caused by human’s great exploitation, highness of predation levels, and also the slowness and complexity of the reproduction system. Sea Turtle maturity and can be nesting after reach about tens years old. The unique reproduction activity of this animal is landing activity to the beach for nesting. Six species of sea turtle had appeared in Indonesia. One of sea turtle landing location in Indonesia is Alas Purwo National Park, Banyuwangi, East Java. This national park, which has beach length about 15,5 kilometres, has compatible vegetation for nesting activity and it’s embryo growth. Because of that, this national park is one of good site for sea turtle observation. Since 2004 KMPV Pet and Wild Animal always do the basic study of this observation once a year. This activity meant as basic theory application for sea turtle observation. Hopefully through this activity, participants can learn about basic aspects of sea turtle such as identification, behaviours, and the natural habitat conservation.

Methode
Sea turtle nesting activity for laying starts from 8 pm until 5 am. It’s landing can be appeared clearly from their traces. Their nesting activity starts by step aside movement from the sea to the beach, to the land that compatible and pleasant for nesting. Then sea turtle digs a nest for placing the eggs in certain depth. After nesting activity finishes, they will close that nest and makes the fake nest as a trick and goes back to the sea. Sometimes sea turtle just do survey for nesting when landing then go back to the sea without nest, called memet. Sea turtle is an animal which has sensitively of disturbances. If a few of disturbances happen before they lay the eggs down, they will leave the beach and go to the sea. The disturbances are sounds, lights, and smells. Because of that, the observation is done quietly, with minimum lighting, and avoids using thing with stings smell such as smoke and perfumes. The observation starts at 12 pm. The participants are divided into several groups and they explore the beach from Trianggulasi to Ngagelan (hectometre 25 – 87 area). Tools that needed are flashlight, stationery, and camera. Hopefully this observation could get results, not only meet the sea turtles directly but also find the nests and it rests.

Results
During 2004-2008, the observations which had got positive results are the observations in 2006 and 2008. In 2006, that’s only found one turtle nesting trace with their nest and eggs around the hm (hectometre) 35 area. In expectation by it trace and depth of nest, that nest is belong to green sea turtle’s (Chelonia mydas). On 2008, there were four landing. Three of them only landing rest on hm (hectometre) 54, 63, and 70 areas. The direct meeting was happened on hm 75. That sea turtle was an olive sea turtle (Lepidopchelys olivacea) with carapace length about 60 cm. But on that time, the sea turtle haven’t nest yet, so it felt disturbed and go back to the sea.

Discussion
Many factors affected the quantity of sea turtle landing for nesting, such as season, tidal wave, noise, and lighting. Sea turtle’s nest season in Alas Purwo National Park starts from March until October and peak season is on June. Beside that, the beach line length is about 15,5 km also cause the decreasing percentage of the opportunity to meet turtle. High number of the people who do observation can influence the result because the more persons who involved in this observation the noisier the environment is. The lighting will be optimal If the observation held when full moon, so the beach condition is on natural condition without any help from artificial lightning. Sea turtle which ready to nest will easily feel disturbed by condition with excessive lighting, especially flash light. If this thing happens, they will go back to the sea.

KMPV Pet and Wild Animal.
KMPV Pet and Wild Animal or commonly know as PW is a Veterinarian Profession and Interest Organization which focus on wild and pet animal. This organization also joined on Chelonia- wildlife study forum for the Indonesia Veterinary Medicine Faculty. This organization mixes two different philosophies (pet and wild animal) in order to effort fund for cross subsidy in all activities. Kind of wild division activities are birds observation in TAHURA Cangar, wild animal observation in Alas Purwo National Park, veterinary medicine skill training for wild animal, and lectures of wild animal. In the other hand, pet division activities are cat show, dog rally, clinical handling training for pet, etc.

Refference
Iqomah,M. 2004. Perbandingan Presentase Penetasan dan Masa Inkubasi Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea, Eschsolfltz ,1829) pada penetasan Alami dan Semi Alami di Pantai Marengan, Ngagelan, Taman Nasional Alas Purwo. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.

Nuitja,IN. 1992. Biologi dan Ekologi Pelestarian Penyu Laut. Penerbit IPB. Bogor

sc burung kirik-kirik birdwatching club telah bangkit..!!!!!

mungkin ke depannya hanya akan menjadi sc kirik-kirik..

karena konsentrasi dan fokus pembelajaran dari kirik-kirik akan berkembang dengan konsep baru..selain dari yang paling basic yaitu pengamatan burung dengan segala metode identifikasi dan inventarisasinya..mulai ada perkembangan yang lebih signifikan. Dan ini disesuaikan dengan keadaan saat ini tentang aware flu burung dan isu-isu ksehatan satwa liar seperti burung.Mulai dari peatihan penanganan klinis burung, diskusi-diskusi, hingga pelatihan-pelatihan tentang sampling AI pada burung liar.

Mulai dari proses catching hingga sampling.

Untuk birdrace pun diupayakan agar bisa eksis kembali..selain itu networkingpun juga digalakkain ini terbukti dengan aktifnya anggota sekaligus pengurus sc kirik-kirik sebagai founding father dari sarang burung surabaya.is kembali

semoga dengan ini kirik-kirik bisa berjaya lagi dan eksis hingga membawa nama KMPV  kita jaya kembali..

dan sebagai SC yang berdiri lagi..sudah ada keta baru yang bertangungjawab yaitu wiwid dari tahap 3.

Sabtu tanggal 26 Juli 2008 bertepatan dengan hari mangrove sedunia. Anggota KMPV Pet and Wild Animal dari tahap 3 yaitu wiwid dan Purbo ikut bersama dengan Sarang Burung Surabaya untuk melakukan pengamatan burung di Wonorejo sekaligus melakukan aksi simpatik berupa kampanye ajakan untuk menjaga kelestarian burung dan habitat alaminya di derah Wonorejo. Aksi ini dilakukan di Wonorejo yang saat itu tengah ada acara menanam pohon mangrove yang diprakarsai oleh PEMKOT Surabaya . Adapun aksi dari teman-teman yang tergabung dengan Sarang Burung Surabaya cukup berjalan baik. Selain itu pengamatan burung juga cukup memuaskan para anggota PW yang sudah jarang mengamati burung. Berikut adalah list burung-burung yang terlihat saat itu ( versi Purbo) :
1. Kuntil kecil (Egretta garzetta)
2. Kuntul besar (Egretta alba)
3. Kuntul perak (Egretta intermedia)
4. Kokokan laut (Butorides striatus)
5. Blekok sawah (Ardeola speciosa)
6. Kareo padi (Amauronis phoenicurus)
7. Trinil semak (Tringa glareola)
8. Gagang-bayam timur (Himantopus leucocephalus)
9. Titihan Australia (Tachybaptus novaechollandiae)
10. Dara laut benggala ( Sterna bengalensis)
11. Dederuk jawa ( Streptophelia bitorquata)
12. Tekukur biasa (Streptophelia chinensis)
13. Cekakak sungai (Thodiramphus clhoris)
14. Cekakak suci (Thodiramphus sanctus)
15. Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster)
16. Merbah cerukcuk (Pycnonotus goiavier)
17. Bentet kelabu (Lanius schach)
18. KIpasan belang (Rhapidura javanica)

sungguh luar biasa perasaan ini melihat 2 harimau sumatera akhirnya bisa lepas ke alam bebas..

harimau yang ditangkap saat terjadi konflik di daerah aceh ini, bisa dilepas berkat kerja sama yang apik dari pihak BKSDA, Taman safari, dan tomy winata.selain itu tidak lupa surya paloh dengan metro tv-nya yang meliput acara ini live..

hadir juga untuk pelepasan bapak menteri kehutanan..

ini adalah pertama kalinya terjadi di Indonesia dan di dunia..

sebetulnya masih ada beberapa harimau lagi yang akan dilepas, namun masih bermasalah dengan kondisi kesehatan.sehingga terlalu riskan untuk dilepas.harimau tersebut dilengkapi dengan GPS sehingga bisa terpantau dengan baik , kemana saja pergerakannya..

kabar terakhir dari harimau tersebut bahwa salah satu harimau dikatakan masih belum bisa beradaptasi dengan alam barunya..sebagai bukti keberadaan harimau tersebut malah kembali mendekati daerah titik pelepasan..

apapun yang terjadi..semoga itu yang terbaik bagi harimau-harimau tersebut…

semoga hal-hal yang sama juga terjadi pada satwa-satwa lainnya…

semoga lestari ini selalu bergema di bumi ini…

susah sekali mengulang kejayaan dan kebesaran anam sc kirik-kirik birdwatching club…

padahal diklat pengamatan burung tiap tahun selalu dilakukan..

selain itu saat ini para pengamat burung di surabaya sudah berkumpul untuk aksi yang lebih nyata dalam pelestarian burung dan habitat alaminya dengan nama sarang burung surabaya..

terkadang agak trenyuh juga ketika ditanya siapakah ketua kirik-kirik sekarang??

yah apapun yang terjadi semoga kirik-kirik bisa bangkit lagi mengulang kesuksesan para pendahulu seperti era mas fariz,mas andi, mba asih dan lain-lain..

dan semoga nama KMPV kita masih bisa terus exist di dunia perburungan..

amien..

by purbo.

Pada tanggal 17 hingga 19 mei 2008, Kelompok Minat Profesi Veteriner (KMPV) Pet and Wild FKH Unair mengadakan acara pengamatan satwa liar di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi. Acara ini diikuti oleh sekita 58 mahasiswa FKH unair beserta Kelompok Studi Satwa Liar (KSSL) FKH UGM, yang diwakili oleh Permadi, Deva R, Maria Aditya, Dwi Nur, dan Rosita P, serta Pranoto Adi Swasono, SKH, mahasiswa pendidikan profesi dokter hewan FKH Udayana. Kegiatan ini rutin diadakan oleh KMPV Pet and Wild FKH Unair satu tahun sekali.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk melakukan studi dan pengamatan terhadap satwa liar di Taman Nasional Alas Purwo, untuk meningkatkan minat mahasiswa terhadap satwa liar, serta sebagai implementasi terhadap materi kuliah yang telah didapatkan di FKH. Dua satwa yang menjadi objek studi utama kegiatan ini adalah banteng (Bos javanicus javanicus) dan penyu (sea turtle).

Taman Nasional Alas Purwo terletak di kecamatan Tegaldlimo dan kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Taman Nasional Alas Purwo memiliki luas area 43.420 Ha. Terdapat beberapa zona dalam TN Alas Purwo, yaitu :
Σ Zona Inti (Sanctuary zone) seluas 17.200 Ha
Σ Zona Rimba (Wilderness zone) seluas 24.767 Ha
Σ Zona Pemanfaatan (Intensive use zone) seluas 250 Ha
Σ Zona Penyangga (Buffer zone) seluas 1.203 Ha.

Secara umum tipe hutan di kawasan TN Alas Purwo merupakan hutan hujan dataran rendah yang terdiri dari hutan mangrove, hutan pantai, hutan tanaman, hutan bambu dan terumbu karang, dengan hutan bambu sebagai formasi yang dominan, ± 40 % dari total luas hutan yang ada. Tumbuhan khas dan endemik pada taman nasional ini yaitu sawo kecik (Manilkara kauki) dan bambu manggong (Gigantochloa manggong). Tumbuhan lainnya adalah ketapang (Terminalia cattapa), nyamplung (Calophyllum inophyllum), kepuh (Sterculia foetida), keben (Barringtonia asiatica), dan 13 jenis bambu.

Taman Nasional Alas Purwo merupakan habitat dari beberapa satwa liar seperti lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus), banteng (Bos javanicus javanicus), ajag (Cuon alpinus javanicus), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan (Gallus gallus), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), dan kucing bakau (Prionailurus bengalensis javanensis). Satwa langka dan dilindungi seperti penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas) biasanya sering mendarat di pantai Selatan taman nasional ini pada bulan Januari s/d September.

Acara pengamatan dimulai sekitar pukul 06.00 WIB yang berlokasi di Sadengan, yang merupakan padang pengembalaan satwa seperti banteng, kijang, rusa, kancil, babi hutan dan burung-burung. Pengamatan ini dilakukan dengan metode konsentrasi, yaitu metode sensus yang dilakukan dengan mengamati satwa pada tempat-tempat berkumpulnya. Beberapa satwa yang diamati dengan metode ini antara lain :
• Banteng (Bos javanicus javanicus)
Jumlah yang diamati sebanyak 26 ekor, dengan rincian 20 ekor betina dan enam ekor pejantan. 26 ekor banteng tersebut terbagi dalam tiga kelompok. Kegiatan yang dilakukan kelompok pertama adalah merumput, kelompok kedua istirahat, sedangkan kelompok ketiga lari menuju arah selatan. Pengamatan banteng oni dilakukan pada pukul 05.53 – 06.15 WIB. Dari hasil pengamatan juga diketahui bahwa jumlah betina yang berumur lebih dari 1 tahun adalah 12 ekor, sedangkan yang masih berumur kurang dari 1 tahun sebanyak 8 ekor. Pejantan yang berumur lebih dari 1 tahun sebanyak 2 ekor, dan 4 ekor lainnya masih berumur kurang dari 1 tahun.
Ciri spesifik pada banteng adalah warna putih pada kaki bawah dan pantat. Pada banteng jantan bulu berwarna hitam dan memiliki tanduk panjang dan berpunuk. Banteng betina memiliki bulu berwarna merah-coklat dengan tanduk pendek dan tidak berpunuk.
• Rusa (Cervus sp)
Jumlah rusa yang diamati pada pukul 06.28 WIB adalah sebanyak 34 ekor. Saat diamati, kegiatan yang dilakukan kelompok rusa tersebut adalah merumput dan istirahat. Ciri umum rusa adalah bulunya berwarna coklat, memiliki tanduk pada pejantan, sedangkan pada betina tidak.
• Merak (Parvo muticus)
Jumlah merak yang diamati pada sekitar pukul 06.27 WIB sebanyak 6 ekor, dengan 3 ekor jantan dan 3 ekor betina. Merak jantan memiliki ekor yang lebih panjang daripada merak betina, tubuhnya berwarna hitam dan terdapat warna hijau pada bulu ekornya.
• Lutung
Pada pohon di dekat menara pengamatan, kami menamukan dua ekor lutung yang sedang beristirahat.
• Kangkareng perut putih (Anthracoceros albirostris)
Kami juga mengamati dua ekor kangkarang perut putih yang terbang ke arah utara. Ciri burung ini adalah perut dan totol di bawah mata berwarna putih, serta tanduk pada betina lebih kecil dan lebih kehitaman dripada pada pejantan.
• Elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster)
Terdapat dua ekor elang laut perut putih yang hinggap di ranting pohon saat pengamatan dilakukan di Sadengan. Ciri elang jenis ini adalah kepala dan bagian bawah berwarna putih, kaki abu-abu, ekor pendek dan berbentuk baji.
• Elang ular bido (Spilormis cheela)
Elang ini terbang di atas pos pengamatan sekitar pukul 08.30 WIB. Burung ini memiliki ciri bulu utama bertitik-titik dan pada bawah sayap dan ekor terdapat garis yang jelas.
• Jalak putih (Sturnus melanopleros tricaos)
Terlihat empat ekor Jalak putih yang sedang hinggap di atas punggung banteng. Ciri burung ini adalah tubuhnya terdiri dari dua warna dengan tenggorokan berwarna putih.
• Cangak abu (Ardea cinerea)
Kami juga mengamati dua ekor cangak abu yang sedang terbang. Burung ini memiliki ciri kepala berwarna putih, leher putih, dan badan berwarna hitam.
• Layang-layang (Hirundo sp)
Kami mengamati lima ekor burung Layang-layang yang terbang di dekat menara pengamatan di Sadengan. Ciri yang terlihat adalah burung ini sering mengepakkan sayap saat terbang dan sayapnya berbentuk huruf V.

Selanjutnya pengamatan dilakukan dengan menyusuri hutan atau yang disebut jalur track. Jalur yang kami tempuh dimulai dari sadengan menuju Trianggulasi melewai hutan. Beberapa satwa yang berhail kami amati saat pengamatan jalur track antara lain:
• Jalak suren (Stirnus contra)
Kami mengamati lima ekor jalak suren pada ranting pohon. Ciri burung ini adalah bulunya memiliki dua warna dengan tenggorokan berwarna hitam.
• Ayam hutan (Gallus sp)
Kami semepat megamati seekor ayam hutan pada perjalanan menuju Trianggulasi. Ciri ayam hutan antara lain pada yang betina bulunya berwarna coklat.
• Gagak hutan (Corvus enca)
Jumlah gagak hutan yang kami amati saat burung ini hinggap di pohon adalah sebanyak dua ekor. Gagak hutan memiliki paruh yang lebih panjang dan lebih langsing daripada gagak kampung, serta bagian bawah lebih abu-abu. Bulunya didominasi warna hitam.
• Kirik-kirik senja (Merops leschenaulti)
Kami mengamati seekor kirik-kirik senja yang sedang hinggap di pohon pada jalur track. Ciri burung ini antara lain memiliki topi dan mantel yang berwarna coklat, ekor hijau dan bulu ekor tengahnya tidak memanjang, dan terdapat garis hitam pada dada atas.
• Ular Phyton (Phyton molurus)
Kami sempat menemukan seekor phyton yang berada di jalan jalur track.
Pada saat melakukan pengamatan pada jalur track, kami juga membuat plaster cast, yaitu membuat cetakan gips pada jejak satwa liar yang terbentuk di tanah. Beberapa plaster cast yang behasil dibuat antara lain berasal dari jejak banteng dan rusa. Selain itu kami juga mengambil sampel feses untuk diperiksa apakah feses tersebut mengandung penyakit.

Pada Sabtu malam, diadakan acara lalar, yaitu berjalan di sepanjang pantai untuk menemukan dan mengamati penyu yang naik ke daratan untuk bertelur. Rute lalar dimulai dari Trianggulasi menuju Ngagelan dan ditempuh sepanjang garis pantai. Acara lalar dimulai sekitar pukul 00.30 WIB dan berakhir pada sekitar pukul 05.00 WIB. Sebelum lalar dilaksanakan, diadakan briefing sebagai bekal dalam pelaksanaan lalar. Beberapa hal yang disampaikan dalam briefing antara lain mengenai jenis-jenis penyu dan cirinya, jenis penyu yang sering bertelur di pantai di Taman Nasional Alas Purwo, serta cara melakukan pengamatan penyu yang benar. Penyu sangat sensitif dan mudah terganggu karena cahaya, suara dan gerakan terutama pada saat dia keluar dari air, menuju pantai dan menggali lubang untuk bertelur. Oleh karena itu, pada saat melakukan pengamatan penyu, sebaiknya pengamat tidak menyorot penyu dengan senter atau membuat cahaya lain, tidak mengunakan bau-bauan yang menyengat, tidak gaduh dan tidak menghalangi jalan penyu waktu penyu akan kembali ke laut.

Terdapat 8 jenis penyu di dunia, yaitu penyu tempayan atau Longgerhead turtle (Caretta caretta), penyu pasifik atau Black or Eastern pasific green turtle (Chelonia agassizii), penyu hijau atau green sea turtle (Chelonia mydas), Penyu belimbing atau Leatherback turtle (Dermochelys coriacea), penyu sisik atau Hawksbill turtle (Eretmochelys imbricata), Kemp’s ridley (Lepidochelys kempi), Penyu lekang atau Olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea), dan penyu pipih atau flatback turtle (Natator depressa). Dari 8 jenis penyu di atas, tujuh diantaranya terdapat di perairan Indonesia, kecuali kemp’s ridley. Empat dari tujuh penyu yang terdapat di perairan Indonesia naik ke pantai untuk bertelur di kawasan Taman Nasional Alas Purwo, yaitu penyu lekang, penyu hijau, penyu belimbing dan penyu sisik.

Pada saat melakukan lalar kami bertemu dengan seekor penyu lekang yang naik ke pantai. Namun kami tidak menemukan sarang tempat penyu tersebut meletakkan telur. Kami menduga penyu tersebut melakukan memeti dan kemungkinan akan kembali naik ke pantai 2-3 hari kemudian. Acara lalar diakhiri dengan mengunjungi pusat penangkaran penyu yang berada di Ngagelan. Di pusat penangkaran dilakukan penetasan telur di pasir, pemeliharaan tukik agar nantinya saat dilepas ke laut mereka telah siap dan mampu bertahan hidup.

Acara pengamatan satwa liar di Taman Nasional Alas Purwo diakhiri dengan diskusi yang diadakan bersama pihak Balai Konservasi Taman Nasional Alas Purwo. Dari hasil diskusi dapat kami simpulkan bahwa kami harus bersama-sama menjaga kelestarian alam, pada khususnya kelestarian Taman Nasional serta melestarikan satwa liar sebagai bentuk kontribusi aktif mahasiswa. Pihak balai konvservasi juga mnginginkan adanya penelitian lebih lanjut mengenai satwa-satwa yang hidup di Taman Nasional Alas Purwo (PurDi).

Pada tanggal 10, 15, dan 21 Juni 2008, Kelompok Minat Profesi Veteriner (KMPV) Pet and Wild FKH Unair mengadakan acara Diklat Veterinary Medicine : Pelatihan Penanganan Dasar pada Pet dan Wild Animals. Kegiatan ini rutin diadakan oleh KMPV Pet and Wild FKH Unair setiap tahunnya. Diklat Veterinary Medicine dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.

Tujuan kegiatan ini adalah untuk melatih mahasiswa melakukan penanganan dasar pada hewan kesayangan dan satwa liar, untuk meningkatkan minat mahasiswa terhadap profesi sebagai praktisi di kemudian hari, serta sebagai implementasi terhadap materi kuliah yang telah didapatkan di FKH. Beberapa materi yang disampaikan dalam Diklat ini adalah cara handling dan restrain hewan peliharaan dan satwa liar, cara pengambilan sample darah, cara penyuntikan obat, sexing, pengukuran temperatur, heart rate, pulsus, dan sebagainya. Dalam pelatihan ini satwa yang dipelajari adalah anjing, kucing, ular, kura-kura, burung dan kelinci.

Sebanyak 83 mahasiswa mengikuti kuliah umum yang diadakan pada hari Selasa, 10 Juni 2008. Pada kuliah umum tersebut diberikan beberapa materi dasar mengenai cara handling dan restrain, cara membaca foto rontgen, serta cara mendiagnosa penyakit pada hewan kesayangan. Selain itu juga diberikan materi mengenai cara anestesi ikan menggunakan minyak cengkeh. Pemberi materi adalah Drh Wiwik Misaco Y., Mkes., Drh Emmanuel Djoko Putranto, M.S., dan Drh Djoko Legowo, M.Kes.

Kegiatan praktikum yang dikhususkan untuk anggota tahap dua KMPV Pet And Wild Animal diikuti oleh sekitar 63 mahasiswa. Praktikum sesi pertama yang dilangsungkan pada hari Minggu, 15 Juni 2008 dibimbing oleh Drh Emmanuel Djoko Putranto, M.S., dan Drh Djoko Legowo, M.Kes. Dalam praktikum ini dipelajari cara handling dan restrain, penghitungan pulsus dan heart rate, diagnosa kebuntingan, serta cara penyuntikan intramuscular dan subcutan pada kucing dan anjing. Selain itu dipelajari pula cara anestesi pada ikan dan pengambilan sampel darah pada ikan serta burung kecil dan besar. Praktikum sesi kedua dilangsungkan pada hari Sabtu, 21 Juni 2008. Pada praktikum ini dipelajari cara handling dan restrain, pengambilan sampel darah dan penyuntikan intravena, serta sexing pada ular dan kura-kura. Selain itu juga diberikan materi mengenai cara melakukan infus pada kucing dan pengambilan sampel darah pada kelinci. Praktikum ini dibimbing oleh Drh Benjamin Chr. Tehupuring, M.S. dan Drh Nusdianto Triakoso, M.P.

Dari kegiatan ini diharapkan mahasiswa mampu mempelajari lebih dalam mengenai hewan kesayangan dan satwa liar, cara handling dan restrain yang benar, serta hal-hal lain yang dapat mendukung profesi sebagai dokter hewan (PurDi).

Salam lestari….

Akhirnya datang juga yang di tunggu-tunggu. Sebuah website atau blog atau apapun istilahnya. Tentunya milik KMPV Pet and Wild Animal. Menjadi salah satu media informasi bagi seluruh anggota yang sekarang sudah tersebar di berbagai penjuru dunia. Apresiasi dan terima kasih kita sampaikan kepada seluruh pihak yang telah dengan setia menunggu kehadiran situs ini dan juga kepada seluruh anggota yang sudah selalu berpartisipasi aktif dalam kegiatan kita. Harapan kita semoga dengan kehadiran situs ini mampu memberikan informasi secara up to date tentang organisasi ini dan menjadi tempat untuk bertukar pikiran bagi seluruh anggota KMPV Pet and Wild Animal. Akhirnya kita hanya bisa berucap terima kasih, terima kasih, dan terima kasih (RicBu).